Selasa, 21 Juni 2016

Tradisi Melaut Masyarakat Pulau Saparua

Tradisi Melaut Masyarakat Pulau Saparua
Diambil dari Sistem Penangkapan Ikan Tradisional Masyarakat Nelayan Di Pulau Saparua
Oleh Julian J. Pattipeilohy di Jurnal Penelitian, Vol. 7, No. 5.Edisi November 2013
Balai Pelestarian Nilai Budaya Ambon
Jl. Ir.M.Putuhena Wailela-Rumahtiga Ambon
Telepon : (0911) 322718-322717,
Fax (0911) 322717
Pulau Saparua yang masuk dalam kategori suku Ambon terdiri dari 17 buah negeri dengan tradisi dan adat istiadat yang tidak jauh berbeda satu dengan yang lain. Namun di beberapa negeri ada tradisi-tradsi yang tidak terdapat di negeri yang lain seperti di negeri Paperu terkenal dengan tradisi hohate ikan papua, Tuhaha dengan sasi dusun dan labuhang, serta di negeri Noloth dengan sasi lola dan masih banyak lagi tradisi-tradisi dari setiap negeri. Tradisi adalah kebiasaan yang masih dilakukan oleh sebagian besar warga suatu masyarakat yang diwariskan secara turun temurun. Tradisi-tradisi ini ada sebagian yang masih dilakukan tetapi ada juga yang mulai memudar bahkan sudah tidak lagi dilakukan seperti tradisi balobe. Berikut ini dijelaskan tentang tradisi-tradisi tersebut.
1.        Tradisi Hohate Ikan Papua
Tradisi hohate ikan papua[1] adalah kebiasaan masyarakat negeri Booi untuk menangkap ikan sejenis ikan batu-batu yang hidup pada perairan air yang tidak terlalu dalam. Dengan menggunakan huhate/pancing yang mata kailnya dari umpan hidup keong (siput) atau kumang. Huhate dibuat dari sepotong bamboo dengan ukuran 5, 7 atau 9 ruas kemudian diberi tali snar atau nilon. Ukuran ruas bambu harus ganjil tidak boleh genap. Menurut masyarakat di sana jika menggunakan jumlah ruas genap akan kesulitan dalam menangkap ikan tatu.
Namun jika membuat huhate sesuai dengan ukuran maka dapat menangkap banyak ikan. Ikan Tatu Hitam ukurannya selebar telapak tangan dan panjangnya kurang lebih 15 cm bahkan ada yang lebih panjang. Kerena daging ikan ini kenyal seperti daging ayam maka disebut juga ikan ayam dan oleh masyarakat Booi disebut juga ikan papua[2], karena ikan Tatu Hitam ini banyak ditemukan pada saat buah cengkeh mulai ranum (polong), dan bila cengkeh polong mulai habis dari pohon, maka ikan ini juga akan sangat sulit di temui di lautan. Suatu fakta yang sangat menarik, adalah setelah selesai memanen hasil cengkeh, masyarakat boleh menikmati dan berpesta dengan hasil laut yang melimpah. Suatu keberuntungan yang jarang ada di tempat yang lain.
Ikan Papua suka bergerombol dalam jumlah banyak dan umpan yang paling mujarab adalah keong/siput atau kumang-kumang kecil. Munculnya Ikan Papua ini tidak terjadi sepanjang tahun, karena hanya muncul satu kali dalam satu tahun, yaitu saat buah cengkeh meranum (Papua) dan ini dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh masyarakat dan telah menjadi tradisi yang dilakukan sepanjang tahun bersamaan dengan musim menuai cengkeh.
Dengan menggunakan Kole-Kole atau sampan (perahu kecil), masyarakat secara berbondong-bondong mencari posisi antara air laut dangkal dan air laut dalam, tempat bermain kesukaan Ikan Papua. Tempat antara air laut dangkal dan dalam ini kira-kira berkedalaman satu meter. Dan ikan papua muncul ketika air laut mulai surut.
2.        Tradisi Bameti
Kegiatan bameti dilakukan hampir pada semua negeri di pulau Saparua, apalagi pada negeri-negeri yang memiliki hamparan pantai yang luas. Kegiatan ini biasanya dilakukan pada saat air meti (air surut) dan lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan dan biasanya pada saat musim timur di mana ikan banyak dan gelombang besar. Ada beberapa bentuk kegiatan bameti yaitu :
a.    Amanisa/amunisa adalah alat tangkap ikan yang dibuat dari anyaman bamboo bentuknya bulat memanjang di mana salah satu sisinya dibuat berlubang sebagai pintu masuknya ikan. kegiatan ini biasanya dilakukan oleh orang perempuan. Caranya amanisa di letakan di dalam kolam dan ketika batu diangkat maka ikan-ikan yang bersembuyidi bawah batu tersebut akan masuk ke dalam amanisa, kemudian pintu amanisa ditutup. Kegiatan ini dapat dilakukan pada beberapa tempat yang diyakini ada ikannya, dan biasanya kegiatan ini dilakukan pada saat meti di musim timur. Selain metinya panjang, dimusim ini ikannya banyak, sehingga bamate amanisa dapat dilakukan dengan mudah.
b.    Cari Bia : biasanya dapat dilakukan oehsiapa saja, orang tua, anak kecil, laki, perempuan. Ketika air meti (air surut) mereka kemudian mencari jenis-jenis siput atau keong laut (Bia) dengan cara menggali. Kegiatan ini dapat dikatakan gampang-gampang susah, artinya yang belum berpengalaman pasti akan merasa sulit, karena harus bisa membedakan bentuk keong atau siput tertentu dengan batu-batu kecil yang berlumut. Dalam hal mencari bia ada jenis bia tertentu yang sering menjadi sasaran pencarian yaitu mencari bia sageru (nama bia ini lazim di Lease). Mencari bia sageru ini unik, bia ini biasanya bersembunyi di dalam pasir dan yang kelihatan adalah lubang-lubang kecil dipermukaan. Untuk dapat memangkapnya harus menggunakan potongan lidi dengan ukuran kira-kira 30 cm dengan diameter seukuran tusuk sate, Cara tangkapnya lidi ditusuk tepat ke dalam ke dalam lubang kecil tersebut, bila kena bia akan menutup tubuhnya dan tertancap dilidi, tetapi bila tidak bia akan membenamkan diri lebih jauh ke dalam pasir. Mencari bia ini harus berjalan perlahan-lahan karena sangat sensitif sekali bia ini.
c.    Gale (gali) taripang adalah kegiatan menggali jenis teripang tertentu. Bagi mereka yang sudah berpengalaman mereka tahu betul tempat teripang ini hidup. Biasanya jenis teripang ini hidup bekelompok dalam pasir dan karang. Dengan begitu harus memakai linggis sebagai alat untuk menggali lobang untuk menemukan teripang-teripang ini. Jenis taripang seperti ini di Negeri Booi dinamakan Teripang Sai-sai.
3.        Tradisi Balobe
Kegiatan balobe sama saja dengan kegiatan bameti, hanya balobe dilakukan pada malam hari. Balobe biasanya untuk mencari ikan atau gurita dengan menggunakan obor atau lampu. Alat yang digunakan untuk balobe adalah parang, Kalawai (sejenis tombak, yang bermata 2-5 cm), Kurkunci ( besi kecil yang salah satu ujungnya di tajamkan dan memakai taji/sanggi-sanggi yang sengaja di buat sebagai alat pelengkap Kalawai. Bila dibandingkan dengan kegiatan bameti, balobe lebih gampang mendapatkan ikan, sebab malam hari ikan atau Gurita terkesan jinak tinggal di potong atau di tikam memakai Kalawai atau Kurkunci
4. Tradisi Sasi Lola di Desa Noloth
Lola adalah nama sejenis siput laut yang dapat dimanfaatkan dagingnya untuk dimankan dan kulitnya dapat dibuat perhiasan atau cindra mata. Jenis siput ini berbentuk kerucut dengan ukuran panjang 10-15 cm. Di lokasi penelitian desa Noloth, dan beberapa desa di Pulau saparua seperti desa Sirisori Islam dan desa Ouw adalah penghasil siput lola yang sampai sekarang dilindungi secara tradisional oleh masyarakatnya. Dalam upaya melindungi keberadaan siput lola serta dalam upaya melestarikan budaya adat sasi, maka Pemerintah desa Noloth dan Kewang Negeri mengeluarkan Keputusan Pelaksanaan sasi di negeri Noloth pada tanggal 21 Januari 1994 yang telah disahkan bersamaan dengan aturan terhadap pelanggaran sanksi yang diberikan bagi yang melanggar. Zona sasi di desa Nooth meliputi areal seluas 125.000 m2 sepanjang pesisir pantai yang berbatasan dengan desa Ihamahu. Kedalaman zona adalah 25 meter.
Dalam tradisi ini terdiri dari prosesi inti yaitu proses tutup sasi dan buka sasi. Upacara Tutup Sasi di Desa Noloth dilakukan setelah adanya keputusan dari Badan saniri Negeri, setelah para kewang mengetahui bahwa anakan lola telah banyak. Pada saat tutup sasi diberlakukan, maka aturan-aturan sasi mulai diberlakukan. Dalam proses pemeliharaan anakan lola merupakan tanggungjawab dari seluruh masyarakat dan dalam pengawasan staf kewang. Kepala Kewang serta anak buah Kewang bertugas mengawasi serta mengontrol masyarakat dengan berpatokan pada aturan sasi yang telah dikeluarkan. Setelah anakan lola berumur kurang lebih enam bulan, maka para kewang kemudian sibuk melakukan persiapan upacara buka sasi. Persiapan ini dilakukan kurang lebih seminggu.
Sedangkan upacara buka sasi ini biasanya dilaksanakan di dalam rumah adat (baileu) dengan memperdengarkan lantunan kapata (nyanyian adat) yang semuanya bermuara pada pemujaan kepada Penguasa Langit (Upulanite). Setelah ritual adat selesai, maka anak-anak kewang akan melepaskan tanda-tanda sasi yang berada di sekitar wilayah atau daerah sasi, dan mengarahkan masyarakat untuk panen hasil lola.



[1] http/www.jalanjalanyuk.com./hohate-mangael – ikan-papua di -booi
[2] Papua adalah sebutan masyarakat Booi untuk buah cengkeh yang sudah matang atau ranum (cengkeh polong). Cengkeh polong buahnya besar dan berwarna kemerahmerahan . Bila cengkeh telah polong, harga jualnya akan menurun, beratnya sudah berkurang dan mutu cengkeh juga kurang baik, sehingga cengkeh harus dipetik sebelum menjadi polong.

1 komentar: